My Journey
CINTA adalah ENERGI KEHIDUPAN
Rabu, 21 September 2011
MAAF MENINGGALKANMU
Aku harus pergi meninggalkan semua kenangan di sini. maaf jika harus meninggalkanmu, di sini semua aku belajar dari awal.
This is my choice http://cahsamin.wordpress.com/
Waktu memang mengubah semuanya tapi kenangan akan senantiasa hidup.
Minggu, 28 Agustus 2011
SELAMAT DATANG (PULANG) PEMUDIK
Tanpa sadar kulirik jam dinding, ternyata sudah hampir jam 4 sore. Aku jadi teringat, ada janji bertemu dengan seorang kawan di Ngawen. Aku raih kunci motor dan handphone, segera meluncur ikut menjamahi setiap inchi aspal jalanan. Sesuai dugaanku kondisi jalan lebih ramai daripada hari-hari biasa, sebenarnya waktu itupun hari biasa cuma karena orang moment lebaran semakin mendekat sehingga lau-lintas menjadi semakin ramai. Kalau begitu, mudik adalah migrasi kemacetan? Bisa jadi.
Aku malas untuk ngebut jadi hanya memacu kuda besi pada kecepatan max 60 km/jam saja. Lepas dari desa Jagong perjalanan agak tersendat, ada deretan beberapa bus di depan. Aku terpaksa menguntit dari belakang, karena jengah sehingga tak betah merasa diasapi, akhirnya memaksaku menyalip bus di depan. Sejuruh kemudian....wussshhh....masuk gigi 4 dan aku berhasil berada di depan bus. Aku agak kaget dengan pemandangan di depan, mobil bak terbuka yang dari plat nomornya aku bisa yakin itu kendaraaan dari Jakarta melaju agak pelan beriringan dengan bus lain di depan. Mobil bak terbuka itu "disulap" hanya dengan perpal yang biasanya digunakan sebagai penutup bak belakang truk barang. Di dalam mobil tersebut setidaknya ada 6-8 orang yang dari wajahnya masih berusia belasan tahun. Pastilah keluarga mereka, menanti dengan penuh kerinduan akan kedatangan mereka. Aku tak mampu menggambarkan perjuangan mereka melawan kemacetan dan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh.
Aku yakin setidaknya bukan hanya keluarga dari yang kujumpai di jalanan ini yang ingin merayakan lebaran bersama keluarga besarnya. Sepekan ini ada jutaan orang tua bersiap di rumah, menyambut kepulangan keluarga mereka. Benak mereka dibayangi oleh wajah anak-anak ataupun saudaranya yang sedari kecil tumbuh bersama, namun ketika mulai tumbuh dewasa mereka terpisah ataupun memisahkan diri memenuhi kodratinya. Jelas tidak sepenuhnya mereka terpisah, meski fisik berjauhan tapi ikatan kekeluargaan dan saudara itu senantiasa menancap dalam sanubari hati mereka.
Hasrat dan keinginan setiap orang ketika merantau mungkin hampir sama, semua berangkat ke tanah rantau dengan niat memperoleh kehidupan yang lebih baik, setidaknya secara ekonomi. Kemudian di penghujung Ramadhan, pulang kampung dengan niat yang hampir sama pula, yaitu berkumpul dengan keluarga tercinta.
Aku tak bisa bayangkan kebahagiaan dan kebanggaan keluarga di kampung halaman, pastilah amat besar. Memang benar bahwa mereka merantau untuk mencari materi, tapi tak penting lagi rasanya seperti apa penampilan mereka saat ini, itu tak jadi soal; naik kereta, bus, kendaraan pribadi, pesawat atau motor tak penting jua karena bagi keluarga di rumah adalah keselamatan diri kalian (pemudik) yang paling dinanti.
Benar aku merasa iba dengan pemudik yang aku ceritakan di atas, tapi aku juga bangga, sekaligus menyimpan kagum. Termasuk kalian yang menempuh ratusan kilo aspal dengan motor, berjejalan di dalam kereta yang pengap ataupun bagi pemudik yang begitu menikmati berdesakan di dalam bus, terapung di atas laut bersama kapal. Aku menaruh hormat pada kalian.
Selamat berkumpul dengan keluarga kalian, bernostalgia dengan kawan-kawan di kampung sekaligus melepas kerinduan kaian akan bau tanah kelahiran.
Selamat datang pemudik di kampung halaman kalian masing-masing.
Meskipun masih belum pasti penetapannya, aku akan mendahului, aku ucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah!
Aku malas untuk ngebut jadi hanya memacu kuda besi pada kecepatan max 60 km/jam saja. Lepas dari desa Jagong perjalanan agak tersendat, ada deretan beberapa bus di depan. Aku terpaksa menguntit dari belakang, karena jengah sehingga tak betah merasa diasapi, akhirnya memaksaku menyalip bus di depan. Sejuruh kemudian....wussshhh....masuk gigi 4 dan aku berhasil berada di depan bus. Aku agak kaget dengan pemandangan di depan, mobil bak terbuka yang dari plat nomornya aku bisa yakin itu kendaraaan dari Jakarta melaju agak pelan beriringan dengan bus lain di depan. Mobil bak terbuka itu "disulap" hanya dengan perpal yang biasanya digunakan sebagai penutup bak belakang truk barang. Di dalam mobil tersebut setidaknya ada 6-8 orang yang dari wajahnya masih berusia belasan tahun. Pastilah keluarga mereka, menanti dengan penuh kerinduan akan kedatangan mereka. Aku tak mampu menggambarkan perjuangan mereka melawan kemacetan dan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh.
Aku yakin setidaknya bukan hanya keluarga dari yang kujumpai di jalanan ini yang ingin merayakan lebaran bersama keluarga besarnya. Sepekan ini ada jutaan orang tua bersiap di rumah, menyambut kepulangan keluarga mereka. Benak mereka dibayangi oleh wajah anak-anak ataupun saudaranya yang sedari kecil tumbuh bersama, namun ketika mulai tumbuh dewasa mereka terpisah ataupun memisahkan diri memenuhi kodratinya. Jelas tidak sepenuhnya mereka terpisah, meski fisik berjauhan tapi ikatan kekeluargaan dan saudara itu senantiasa menancap dalam sanubari hati mereka.
Hasrat dan keinginan setiap orang ketika merantau mungkin hampir sama, semua berangkat ke tanah rantau dengan niat memperoleh kehidupan yang lebih baik, setidaknya secara ekonomi. Kemudian di penghujung Ramadhan, pulang kampung dengan niat yang hampir sama pula, yaitu berkumpul dengan keluarga tercinta.
Aku tak bisa bayangkan kebahagiaan dan kebanggaan keluarga di kampung halaman, pastilah amat besar. Memang benar bahwa mereka merantau untuk mencari materi, tapi tak penting lagi rasanya seperti apa penampilan mereka saat ini, itu tak jadi soal; naik kereta, bus, kendaraan pribadi, pesawat atau motor tak penting jua karena bagi keluarga di rumah adalah keselamatan diri kalian (pemudik) yang paling dinanti.
Benar aku merasa iba dengan pemudik yang aku ceritakan di atas, tapi aku juga bangga, sekaligus menyimpan kagum. Termasuk kalian yang menempuh ratusan kilo aspal dengan motor, berjejalan di dalam kereta yang pengap ataupun bagi pemudik yang begitu menikmati berdesakan di dalam bus, terapung di atas laut bersama kapal. Aku menaruh hormat pada kalian.
Selamat berkumpul dengan keluarga kalian, bernostalgia dengan kawan-kawan di kampung sekaligus melepas kerinduan kaian akan bau tanah kelahiran.
Selamat datang pemudik di kampung halaman kalian masing-masing.
Meskipun masih belum pasti penetapannya, aku akan mendahului, aku ucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah!
Label:
idul fitri,
mudik,
ramadhan,
Senandung Kehidupan
PENJUAL KORAN DI SEPINTAS SIANG
Mentari nampak gahar hari itu, seperti ingin meminta perhatian dari mahkluk di bumi. Terik panasnya menyimpulkan kegarangan dan keangkuhan ego manusia akan global warming. Aku hanya membonceng Lutfal saat mengitari Solo selepas membeli tiket petandingan sepakbola antara RI lawan Palestina di Stadion Sriwedari. Raung suara motor agak tertahan pada lampu merah di perempatan Gendingan, asap knalpot membumbung mencari sisi dan celah di udara keluar dari beberapa kendaraan lain yang ada di samping kanan-kiri, depan, dan mungkin juga belakang motor yang kami tumpangi.
Tak banyak yang aku perhatikan selain traffic light atau simbah bilang bangjo, cukup sedikit mendongak terpampang dengan jelas hitungan mundur yang masih menyisakan waktu lebih dari cukup untuk sekedar menilik orang di sekitar dengan nafsi yang berbeda-beda. Lutfal yang kemudian memecah lamunku, " Ehh mas, itu lihat yang jualan koran, masih kecil pake seragam pramuka lagi", moncer dengan dialek betawi nya. Meskipun keluarga besar dan orang tua nya dari daerah sekitar Tegal yang sangat familiar dengan dialek ngapak namun dia lahir dan besar di Ibu Kota, Jakarta.
"Mana Fal, g' ada kok," ujarku dengan pandangan mata menelisik mencari di mana peloper koran yang dimaksud. Secara refleks tangan kanan Lutfal menunjuk sisi kanan kami, tapi nyatanya yang coba dia tunjukkan nampak sudah tidak ada. "Loh kok g' ada ya, tadi ada di situ." Aku membatin mungkin tadi Lutfal salah lihat."Eh mas, itu tuh adeknya yang jualan koran," telunjuk tangan kanan Lutfal dengan mantab tertuju ke sosok penjual koran yang sedari tadi aku coba cari. Ya sosok perempuan kecil yang mungkin baru berusia sepuluh tahun dengan seragam pramuka dengan atasan berbalut rompi salah satu koran terkenal di Jawa Tengah yang mulai nampak lusuh dan luntur warnanya.
Aku jadi teringat lirik lagu Sore Tugu Pancoran punya Virgiawan Listianto yang aku yakin temen-teman lebih mengenalnya sebagai Iwan Fals. Virgiawan Listianto itu nama aslinya, sewaktu kecil dia pernah menjuarai lomba adzan se-DKI Jakarta.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Terlalu klise memang menyalahkan kemiskinan sebagai biang kerok dari keadaan anak itu. Tapi mengutip sebagaimana yang pernah disampaikan Mohammad Yunus, peraih Nobel Peace Prize atas jasanya mengangkat perekonomian Bangladesh: "Poverty is not created by poor people. It created by system we have built, the institutions we have designed."
Jadi, tak semestinya kau (penjual koran) tanggung sendiri keadaanmu saat ini. Sudahlah, aku sendiri tak begitu paham sistem juga institusi.
Slamat berjuang karena hidup ini terlalu berharga untuk tak berbuat.
Aku ingin terus menuliskan cerita ini, ahh aku mencoba berpikir lebih dalam, tapi buat apa? Lirik lagu di atas sudah lebih dari cukup untuk menjawabinya.
Tak banyak yang aku perhatikan selain traffic light atau simbah bilang bangjo, cukup sedikit mendongak terpampang dengan jelas hitungan mundur yang masih menyisakan waktu lebih dari cukup untuk sekedar menilik orang di sekitar dengan nafsi yang berbeda-beda. Lutfal yang kemudian memecah lamunku, " Ehh mas, itu lihat yang jualan koran, masih kecil pake seragam pramuka lagi", moncer dengan dialek betawi nya. Meskipun keluarga besar dan orang tua nya dari daerah sekitar Tegal yang sangat familiar dengan dialek ngapak namun dia lahir dan besar di Ibu Kota, Jakarta.
"Mana Fal, g' ada kok," ujarku dengan pandangan mata menelisik mencari di mana peloper koran yang dimaksud. Secara refleks tangan kanan Lutfal menunjuk sisi kanan kami, tapi nyatanya yang coba dia tunjukkan nampak sudah tidak ada. "Loh kok g' ada ya, tadi ada di situ." Aku membatin mungkin tadi Lutfal salah lihat."Eh mas, itu tuh adeknya yang jualan koran," telunjuk tangan kanan Lutfal dengan mantab tertuju ke sosok penjual koran yang sedari tadi aku coba cari. Ya sosok perempuan kecil yang mungkin baru berusia sepuluh tahun dengan seragam pramuka dengan atasan berbalut rompi salah satu koran terkenal di Jawa Tengah yang mulai nampak lusuh dan luntur warnanya.
Aku jadi teringat lirik lagu Sore Tugu Pancoran punya Virgiawan Listianto yang aku yakin temen-teman lebih mengenalnya sebagai Iwan Fals. Virgiawan Listianto itu nama aslinya, sewaktu kecil dia pernah menjuarai lomba adzan se-DKI Jakarta.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Terlalu klise memang menyalahkan kemiskinan sebagai biang kerok dari keadaan anak itu. Tapi mengutip sebagaimana yang pernah disampaikan Mohammad Yunus, peraih Nobel Peace Prize atas jasanya mengangkat perekonomian Bangladesh: "Poverty is not created by poor people. It created by system we have built, the institutions we have designed."
Jadi, tak semestinya kau (penjual koran) tanggung sendiri keadaanmu saat ini. Sudahlah, aku sendiri tak begitu paham sistem juga institusi.
Slamat berjuang karena hidup ini terlalu berharga untuk tak berbuat.
Aku ingin terus menuliskan cerita ini, ahh aku mencoba berpikir lebih dalam, tapi buat apa? Lirik lagu di atas sudah lebih dari cukup untuk menjawabinya.
Label:
koran,
Senandung Kehidupan
Selasa, 23 Agustus 2011
MERAH PUTIH
Aku mendongak meskipun tidak penuh, tapi sudah cukup bagiku untuk menatap penuh langit. Sayangnya aku lihat ada sekumpulan awan yang bergerak, berarak pergi. Bak gayung bersambut, ternyata kepergiaan awan langsung diiringi kedatangan mendung. Aku tersenyum simpul, berpikir itu bukanlah isyarat buruknya hari depan. Aku menyakini, meskipun tanpa pelangi tetap saja sore ini terlihat indah, berkah Ramadhan. Gumamku menenangkan sembari menanti saat berbuka.
Nyatanya malam datang jua, aku kembali menatap langit, penuh bintang. Seolah kunang-kunang bertebaran di tepian sawah. Cahayanya seakan memecah riuh yang gaduh, mungkin berbalut perasaan dan hawa nafsu yang saling berkelit-kelindan dalam ruang jaman.
Aku dan kalian, mungkin bukanlah siapa-siapa, hanya sekumpulan anak bangsa biasa yang bermimpi akan kondisi bangsa yang lebih baik. Bisa saja satu di antara kalian adalah orang-orang idealis yang dengan lantang memberi respons ketidakadilan yang terjadi di negeri ini dengan memekakan gendang telinga penguasa. Aktivis-aktivis kampus yang resah akan masa depan bangsa. Atau mungkin penikmat buku-buku tebal nan berat yang menambah penat isi kepala.
Sesungguhnya aku benar-benar tak peduli latar belakang kalian. Apapun agama kalian, dari ras apapun kita, mimpi kita hanya satu, Indonesia Maju. Sejatinya fisik yang berbeda tidak menjadi sekat pemisah kita. Bahwa kita yang berambut lurus maupun keriting, berkulit gelap ataupun sawo matang bahkan putih, tinggi badan yang pendek maupun tinggi. Kita itu sama-sama punya satu mimpi. Mimpi akan bangsa yang lebih baik, yang sejatinya mimpi akan diri kita sendiri di masa depan.
Bisa jadi kalian adalah anak-anak yang suka jalan-jalan di mall sekedar menikmati daging berbalut kain yang tengah duduk ataupun berdiri semampai di tiap sudutnya, sekedar memenuhi sisi artifisial dalam hidup. Membelai dan menyapai malam di tengah dentuman hingar bingar musik dan remangnya lampu diskotik. Menikmati film terbaru di kursi empuk dengan hembusan dinginnya AC, tak lupa pop corn sebagai pelengkap. Pemuja Hedonisme, begitu sebagian orang menyebutnya.
Bisa saja kalian adalah orang suka mengasingkan diri di tepian pantai atau melewati diinginya malam di puncak gunung. Menegakkan diri mencoba merenda mimpi dengan berbaur bersama alam karena merasakan dunia yang semakin angkuh untuk disapa.
Siapapun dan Apapun kalian, aku yakin, kita mempunyai satu mimpi yang sama akan negeri ini. Kita anak bangsa, memiliki keinginan memberikan sesuatu bagi negeri ini. Kita masih muda, tenaga, pikiran, dan waktu melekat pada diri, begitu pula kesempatan.
Tubuh kami gontai, kami lelah, marah, bahkan semakin muak pada semua yang ketimpangan yang ada di negeri ini. Kami curahkan semuanya lewat demonstrasi, orasi, tulisan di media, blog, ataupun cerocos di jejaring sosial, bahkan hingga obrolan di warung-warung. Tapi, biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan sebab di tengah derasnya pertanyaan tanpa jawaban. Betul, sudah selayaknya kita menggugat kegelapan, tapi jangan pernah lupa untuk terus menyalakan lilin penerang jalan. Mari kita songsong esok dengan optimisme & keyakinan, bahwa kebenaran & keadilan, kebajikan & kejujuran, keberanian & ketegasan, akan menemukan jalan.
Aku malas bicara tentang nasionalisme, di mata politisi, nasionalisme hanyalah benturan kepentingan yang kemudian selesai dengan transaksi dan kompromi. Kemudian terkotomi dalam kepentingan sesaat yang sempit. Begitulah MER(D)EKA.
Aku sadar bahwa kita bukanlah superhero dalam komik yang mempunyai kekuatan superpower. Kita juga bukan bagian barisan sakit hati yang merasa ditelantarkan negara. Kita hanya pemuda biasa yang ingin berbagi mimpi yang sama. Mimpi bahwa Indonesia bisa menjadi lebih maju. Apapun dan siapapun kita, kita mampu memberikan yang terbaik dari yang kita miliki.
Kawan, harapan untuk Indonesia yang lebih maju itu bukan di tangan pemimpin negara ini atau di tangan partai tertentu, tapi di tangan kita.
MERDEKA!
Nyatanya malam datang jua, aku kembali menatap langit, penuh bintang. Seolah kunang-kunang bertebaran di tepian sawah. Cahayanya seakan memecah riuh yang gaduh, mungkin berbalut perasaan dan hawa nafsu yang saling berkelit-kelindan dalam ruang jaman.
Aku dan kalian, mungkin bukanlah siapa-siapa, hanya sekumpulan anak bangsa biasa yang bermimpi akan kondisi bangsa yang lebih baik. Bisa saja satu di antara kalian adalah orang-orang idealis yang dengan lantang memberi respons ketidakadilan yang terjadi di negeri ini dengan memekakan gendang telinga penguasa. Aktivis-aktivis kampus yang resah akan masa depan bangsa. Atau mungkin penikmat buku-buku tebal nan berat yang menambah penat isi kepala.
Sesungguhnya aku benar-benar tak peduli latar belakang kalian. Apapun agama kalian, dari ras apapun kita, mimpi kita hanya satu, Indonesia Maju. Sejatinya fisik yang berbeda tidak menjadi sekat pemisah kita. Bahwa kita yang berambut lurus maupun keriting, berkulit gelap ataupun sawo matang bahkan putih, tinggi badan yang pendek maupun tinggi. Kita itu sama-sama punya satu mimpi. Mimpi akan bangsa yang lebih baik, yang sejatinya mimpi akan diri kita sendiri di masa depan.
Bisa jadi kalian adalah anak-anak yang suka jalan-jalan di mall sekedar menikmati daging berbalut kain yang tengah duduk ataupun berdiri semampai di tiap sudutnya, sekedar memenuhi sisi artifisial dalam hidup. Membelai dan menyapai malam di tengah dentuman hingar bingar musik dan remangnya lampu diskotik. Menikmati film terbaru di kursi empuk dengan hembusan dinginnya AC, tak lupa pop corn sebagai pelengkap. Pemuja Hedonisme, begitu sebagian orang menyebutnya.
Bisa saja kalian adalah orang suka mengasingkan diri di tepian pantai atau melewati diinginya malam di puncak gunung. Menegakkan diri mencoba merenda mimpi dengan berbaur bersama alam karena merasakan dunia yang semakin angkuh untuk disapa.
Siapapun dan Apapun kalian, aku yakin, kita mempunyai satu mimpi yang sama akan negeri ini. Kita anak bangsa, memiliki keinginan memberikan sesuatu bagi negeri ini. Kita masih muda, tenaga, pikiran, dan waktu melekat pada diri, begitu pula kesempatan.
Tubuh kami gontai, kami lelah, marah, bahkan semakin muak pada semua yang ketimpangan yang ada di negeri ini. Kami curahkan semuanya lewat demonstrasi, orasi, tulisan di media, blog, ataupun cerocos di jejaring sosial, bahkan hingga obrolan di warung-warung. Tapi, biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan sebab di tengah derasnya pertanyaan tanpa jawaban. Betul, sudah selayaknya kita menggugat kegelapan, tapi jangan pernah lupa untuk terus menyalakan lilin penerang jalan. Mari kita songsong esok dengan optimisme & keyakinan, bahwa kebenaran & keadilan, kebajikan & kejujuran, keberanian & ketegasan, akan menemukan jalan.
Aku malas bicara tentang nasionalisme, di mata politisi, nasionalisme hanyalah benturan kepentingan yang kemudian selesai dengan transaksi dan kompromi. Kemudian terkotomi dalam kepentingan sesaat yang sempit. Begitulah MER(D)EKA.
Aku sadar bahwa kita bukanlah superhero dalam komik yang mempunyai kekuatan superpower. Kita juga bukan bagian barisan sakit hati yang merasa ditelantarkan negara. Kita hanya pemuda biasa yang ingin berbagi mimpi yang sama. Mimpi bahwa Indonesia bisa menjadi lebih maju. Apapun dan siapapun kita, kita mampu memberikan yang terbaik dari yang kita miliki.
Kawan, harapan untuk Indonesia yang lebih maju itu bukan di tangan pemimpin negara ini atau di tangan partai tertentu, tapi di tangan kita.
MERDEKA!
Label:
merah putih,
merdeka,
politik
Langgan:
Entri (Atom)
