Minggu, 29 Mei 2011

REALITA HIDUP : OPTIMISME DI TENGAH PESIMISME

Bus yang aku tumpangi dari Bandung masih melaju dengan kencang. Tempat dudukku berada di bangku 24, merupakan jok ke 3 dari belakang, itu memungkinkanku untuk melihat hampir semua yang ada di bus. Kondisi bangku bus ternyata penuh. Mataku masih agak malas untuk terbuka sempurna. Tapi Alhamdulillah, motion sickness sudah hilang, dikarenakan bau yang mungkin disebabkan kampas rem yang diinjak sangat sering dan dalam oleh sopir bus sempat membuat pusing dan mual. Memang bus Kramat Jati yang kutumpangi harus melewati Subang, dengan jalannya yang menurun dipenuhi dan tikungan tajam menjadikan setiap sopir ekstra waspada. Saat itu, aku “memaksa” mataku untuk terpejam agar bisa menghindari muntah. Tapi, setiap kali bau gesekan kampas rem mampir ke hidung, saat itu pula siksaan benar-benar menyerang. Jika ingin selamat maka aku harus melawan bau tersebut, pikirku saat itu. Tapi apa daya, aku tak membawa minyak kayu putih atau semacamnya, memang selama ini aku tak pernah membawa peralatan seperti itu, bahkan ketika perjalanan jauh sekalipun. Terbersit dalam anganku akan parfum “aerosol” yang aku bawa. Jadi, aku semprotkan beberapa kali ke telapak tangan setiap kali bau gesekan kampas rem terendus. Hal itu terjadi sampai berulang kali, sehingga secara tak sadar, aku akhirnya tertidur.

Mataku yang minus 0,75 melirik keluar, ternyata sudah sampai alun-alun Semarang. “Sampai Semarang ya mas?” Tanya teman sebelahku, Mas Joko, begitu aku memanggilnya. Aku yakin benar itu pertanyaan retoris. Saat berkenalan dia mengaku bekerja sebagai karyawan biasa sebuah pabrik di Bandung. Namun, saat di pertangahan perjalanan, hp nya berdering, dari percakapan dan gaya bicara yang ada, aku yakin dia adalah anggota TNI. Setelah dia menyelesaikan percakapannya via hp, aku meliriknya, dari mulutku meluncur: “Siap Pak” (sambil tersenyum kecil). Dan dia pun langsung membalasnya dengan senyum kecilnya.

Selang berapa lama kemudian, aku kembali mengalihkan perhatianku ke luar. Sepertinya melewati pasar, meskipun hanya sekilas, aku yakin dugaanku benar adanya. Terlihat dari keadaannya yang ramai dan banyaknya penjual sayuran. Aku menaikkan tangan kiriku agar angka arloji bisa terlihat jelas sehingga tahu pukul berapa saat itu, dahiku berkerut, ternyata pukul 03.49. Subhanallah, di saat mayoritas dari kita masih terlelap dalam rayuan kasur, pedagang pasar tradisional sudah bergeliat dan berjibaku dengan aktivitasnya. “Itu Pasar Mranggen mas”, tiba-tiba suara Mas Joko memecah rasa keingintahuanku. Malu rasanya diri ini, jika harus bercermin dari mereka. Mereka merupakan pelaku dan penggerak sektor ekonomi mikro kita. Tanpa mereka mungkin roda perekonomian riil akan seret bahkan macet.

Pandanganku mulai menerawang tanpa batas, terantuk pada kondisi kekinian bangsa. Pada sisi lain, aku mulai jenuh dengan konflik yang berkepanjangan di PSSI. Tak kunjung selesai, malah memanas dan terancam sanksi dari FIFA. Ada lagi masalah lain, lagi dan lagi dari “opera” anggota dewan kita. Kasus korupsi yang terkuak dan mengemuka. Kembali lagi sepertinya, layaknya lagu lama yang terus-menerus diputar. “Maklum” anggota dewan kita ini makelar proyek yang sudah hilang urat malunya. Kasus suap kali ini melibatkan kader partai plat biru menjadi head line dan memenuhi hiruk pikuk media massa….dan yakin, tidak akan terselesaikan….seperti kasus-kasus yang lain. Huuffh….

Memang belajar dari pengalaman perjuangan hidup rakyat yang konkret, kita akan mendapatkan optimisme. Sementara dari cara hidup elit politik yang pendek dan semu, kita berkaca tentang pesimisme.

0 komentar: