Medio awal tahun 2008 Bang Adi mengajakku jalan-jalan ke Yogjakarta, meskipun dia tak menyebutkan tujuan pastinya, tapi aku tak memberikan penolakan. Waktu itu masih pagi, sekitar jam 08.00 kami berangkat, bus patas MIRA pun meluncur dari Solo ke Yogjakarta. Hanya berdua, jadi kami memilih duduk berdampingan. Aku yang memilih tempat duduk, tentu saja di jok yang jadi favoritku kalau naik bus, yaitu 3 deret jok dari belakang; boleh yang ke 3, ke dua, atau yang pertama. Lepas dari Kartosuro, kondektur pun mulai menunaikan tugasnya, tentu saja menjadi kewajiban bagi penumpang membeli jasa angkutan, karena Bang Adi yang mengajakku jadi kubiarkan dia yang mewakili kewajibanku. Tidak ada yang istimewa selama di perjalanan, sesekali Bang Adi mengajakku bicara tapi itu tak bertahan lama karena aku mulai melakukan ritual rutinku, tidur.
“Oiii In, bangun, sudah hampir sampai”, Bang Adi sedikit menggertak sambil menepuk pundakku. Aku mulai tersadar dan benarlah, sebentar lagi kami tiba. Kami tidak turun di terminal tapi di Janti, kata Bang Adi sudah ada teman yang menjemput. Tiba-tiba perutku meminta haknya, “Bang, makan dulu yuk, sambil nunggu yang jemput”, pintaku. Kami menikmati sarapan di Warung BURJO, lokasinya pun masih di sekitar Janti. Kali ini meskipun aku yang mengajak tetap saja Bang Adi yang membayar sarapan. Selesai sarapan, “penjemput” yang kami nantikan akhirnya datang, Mukhit namanya. Aku beri tanda petik, karena Mukhit tidak benar-benar menjemput kami, dia datang naik ojek. Mukhit meminta maaf karena mobilnya rusak jadi dia tidak bisa “benar-benar” menjemput. Perjalanan pun kami lanjutkan dengan naik ojek, biasa ke mana-mana juga motoran. Kami bertiga sampai di tempat tujuan, tak kusanga ternyata pondok pesantren, “Waduh, saltum, masak ke ponpes pakai celana jeans” gerutuku dalam hati, “tapi masih untung aku mengenakan kemeja bukan kaos oblong seperti kebiasaanku jika bepergian jauh,” sisi hatiku yang lain berusaha menenangkan.
Kami bertemu dengan Gus Muwafiq (semoga penulisan nama beliau benar dan kalo salah sebelumnya mohon maaf), selaku pimpinan ponpes (nama ponpes nya aku juga sudah lupa). Beliau menyambut kami dengan luar biasa, layaknya tamu agung, kami disuguhi dengan banyak hidangan. “Sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi yang senantiasa memuliakan tamu. Ingat kisah saat ada sahabat yang silaturahim saat makan malam tiba, karena jatah makanan hanya cukup untuk satu orang, Kanjeng Nabi memilih mematikan obornya demi memberikan jatah makan malam kepada sahabat sementara Beliau berpura-pura makan,” pikirku saat itu. Sholat dhuhur tiba, kami bergegas menuju masjid, mataku menelisik pandang ke sekeliling ponpes, dari fisiknya, ponpes ini benar-benar sangat sederhana, bahkan masjidnya hanya berukuran kecil sementara ruang di dalamnya juga biasa, alasnya plester semen biasa yang sudah mulai bongkah di beberapa tempat sehingga kerikir-kerikil mulai menyembul ke permukaan, saat sholat dilambari dengan tikar anyaman.
Makan siang, kami masih dijamu dengan baik, “Alhamdulillah,” gumamku kala itu. Gus Muwafiq mulai menampakkan “wajah aslinya” saat selesai makan siang sementara kami benar-benar serius menyimaknya. Beliau mulai bermonolog ria dengan guyonan ala sufi nya. Ada satu cerita dari beliau yang sangat berkesan bagiku, yaitu tentang feminisme.
Suatu hari diadakan seminar yang membahas tentang feminisme, pembicara yang dihadirkan adalah seorang Aktivis Feminisme dan Kyai. Singkat cerita silang pendapat, adu argument terjadi antar pembicara. “Bahwa antara laki-laki dengan perempuan itu sama dalam segala hal,” tukas Aktivis Feminisme tapi langsung disergah oleh Pak Kyai; “Yo beda tho Mbak, masing-masing punya peran tersendiri dan harus tetap pada porsi dan proporsinya.” Moderator Nampak tidak mampu mengendalikan forum, sehingga suasana semakin panas. Pak Kyai mulai menyadari hal itu sehingga memilih mengalah, “Yo wis,” ungkapnya sederhana. Seminar pun selesai, bibir Aktivis Feminisme menyungging senyum “kemenangan”. Adat akhir seminar, pemberian kenang-kenangan dari panitia kepada pembicara. Pasca menerima kenangan, Aktivis Feminisme yang masih terbuai kebanggaan dalam berdebat berniat menyalami Pak Kyai. Pak Kyai menerima dengan senang hati uluran tangan dari Sang Feminis dan saat bersalaman itulah Pak Kyai “mencuri kesempatan”. “Plak!!!”, itu bukan suara timpukan biasa, ternyata selain bersalaman Pak Kyai menimpuk (maaf) pantat Aktivis Feminisme tersebut. Sontak Sang Feminis meluapkan kemarahan yang luar biasa kepada Pak Kyai, tapi beliau nampak santai saja menanggapi. “Lha tadi Mbak bilang kalau laki-laki dan perempuan sama dalam segala hal, saya itu biasa saja kalau memegang atau bahkan menimpuk pantat teman laki-laki saya, ini kenapa mbak malah marah.” Pak Kyai berlalu begitu saja meninggalkan ruang seminar dengan wajah berseri.”
Sontak kami bertiga (Aku, Bang Adi, Mukhit) serta beberapa santri dari ponpes yang menemani Gus Muwafiq di ruang tamu menggelegak melepas tawa, bahkan mataku berair tanda bahwa aku tak lagi mampu menahan tawa.
Matur nuwun Gus Muwafiq, sudah mengajarkan saya untuk menghadapi dan menangkis perihal pemikiran yang amat kompleks menjadi amat sederhana bahkan “hanya” dengan tertawa.
Terkadang dengan tindakan sebuah konsep mampu dijelaskan secara lebih sederhana ketimbang perkataan
0 komentar:
Poskan Komentar