Minggu, 17 Juli 2011

TOPENG MONYET DI SEPOTONG SORE

Tiba-tiba saja muncul suara gendang kecil memecah sunyi di saat hari semakin redup. "Drung dung dung – drung dung dung….,” suara itu terus saja berulang. Tertarik dengan keramaian yang ada, aku pun keluar rumah untuk berbaur dengan anak-anak di kampung. Dentuman gendang kecil itu mengiringi atraksi topeng monyet di depan rumah tetanggaku. Lincah si monyet meliuk-liuk beratraksi mengikuti instruksi sang pawang yang mendampinginya. Menurutku, pawang menabuh gendang dengan irama yang monoton, tapi mungkin karena suara yang monoton tersebut menjadi semacam instruksi yang mudah dimengerti oleh sang monyet. Nyatanya dengan setia monyet melakukan instruksi sang pawang sehingga membuat decak kagum orang-orang yang berkumpu,l yang didominasi anak-anak.

Bagaimanapun juga pesatnya perkembangan teknologi saat ini telah membuat hiburan permainan tradisional klasik semakin tenggelam ditelan zaman karena memang peminatnya terus berkurang. Anak-anak sekarang tentunya lebih menyukai permainan play station atau permainan mobil dengan remote control. Tentunya hal tersebut bukan lagi menjadi hal yang langka, ketimbang menyaksikan atraksi topeng monyet.

Aku sendiri tidak tahu dari mana topeng monyet berasal, pun aku tak pernah benar-benar berniat untuk mencari tahu. Mungkin bagiku sebagaimana keinginan jamak orang lebih tertarik pada atraksi yang sajikan oleh topeng monyet yang "dipandu" pawangnya. Biasanya topeng monyet berjalan berkeliling berhari-hari dari tempat yang satu ketempat yang lain di permukiman padat penduduk. Kedatangan topeng monyet sore itu disambut hangat oleh anak-anak. Simbiosis mutualisme pun terjadi, kegembiraan anak-anak di kampungku menjadi rezeki tersendiri bagi topeng monyet. Beberapa tetanggaku memberikan uang kepada pawang sebagai imbalan pertunjukan si monyet. Entahlah berapa "bagi hasil" yang diterima si monyet dari pawang.

Topeng monyet? Mengapa namanya bisa sedemikian rupa. Aku heran, karena dalam atraksinya tidak menggunakan topeng, baik si monyet maupun pawangnya. Toh biasanya monyet hanya ganti kostum sesuai peran yang dimainkan disertai kacamata. Peran yang paling populer bagi si monyet di telinga kita adalah "Sarimin pergi ke Pasar" Jadi, bukankah lebih baik disebut Atraksi Monyet.

Justru dalam kehidupan nyata, kita lebih sering menjumpai orang yang memakai topeng bagi dirinya. Bahkan atraksinya bisa lebih heboh dari monyet. Mereka juga sangat suka ditonton bahkan terksesan menikmati akrobat yang mereka lakukan. Atraksi pemalsuan surat suara pemilu, atraksi korupsi wisma atlet, atraksi istri simpanan. Padahal seharusnya mereka kita tonton bukan untuk sekedar hiburan, melainkan agar dapat kita jadikan panutan. Tapi muncul tanya mendasar di benakku. Jika mereka adalah pelaku atraksi, lalu siapa pawangnya? Justru sang pawang atraksi politik itu yang harus bertanggungjawab atas semua keadaan bangsa saat ini. Pelaku atraksi pun, tak benar-benar seperti monyet. Mereka tidak setia menaati instruksi sang pawang. Berapa pula uang bagi hasil yang diterima dalam setiap praktek kong-kalikong transaksi politik. Monyet lebih setia dan patuh, jadi bagiku monyet di sore itu jauh lebih berharga daripada mereka.

Halah, sudahlah. Seperti mereka mau memikirkanku saja. Semoga mereka lekas enyah bersama atraksinya!

0 komentar: