Aku mendongak meskipun tidak penuh, tapi sudah cukup bagiku untuk menatap penuh langit. Sayangnya aku lihat ada sekumpulan awan yang bergerak, berarak pergi. Bak gayung bersambut, ternyata kepergiaan awan langsung diiringi kedatangan mendung. Aku tersenyum simpul, berpikir itu bukanlah isyarat buruknya hari depan. Aku menyakini, meskipun tanpa pelangi tetap saja sore ini terlihat indah, berkah Ramadhan. Gumamku menenangkan sembari menanti saat berbuka.
Nyatanya malam datang jua, aku kembali menatap langit, penuh bintang. Seolah kunang-kunang bertebaran di tepian sawah. Cahayanya seakan memecah riuh yang gaduh, mungkin berbalut perasaan dan hawa nafsu yang saling berkelit-kelindan dalam ruang jaman.
Aku dan kalian, mungkin bukanlah siapa-siapa, hanya sekumpulan anak bangsa biasa yang bermimpi akan kondisi bangsa yang lebih baik. Bisa saja satu di antara kalian adalah orang-orang idealis yang dengan lantang memberi respons ketidakadilan yang terjadi di negeri ini dengan memekakan gendang telinga penguasa. Aktivis-aktivis kampus yang resah akan masa depan bangsa. Atau mungkin penikmat buku-buku tebal nan berat yang menambah penat isi kepala.
Sesungguhnya aku benar-benar tak peduli latar belakang kalian. Apapun agama kalian, dari ras apapun kita, mimpi kita hanya satu, Indonesia Maju. Sejatinya fisik yang berbeda tidak menjadi sekat pemisah kita. Bahwa kita yang berambut lurus maupun keriting, berkulit gelap ataupun sawo matang bahkan putih, tinggi badan yang pendek maupun tinggi. Kita itu sama-sama punya satu mimpi. Mimpi akan bangsa yang lebih baik, yang sejatinya mimpi akan diri kita sendiri di masa depan.
Bisa jadi kalian adalah anak-anak yang suka jalan-jalan di mall sekedar menikmati daging berbalut kain yang tengah duduk ataupun berdiri semampai di tiap sudutnya, sekedar memenuhi sisi artifisial dalam hidup. Membelai dan menyapai malam di tengah dentuman hingar bingar musik dan remangnya lampu diskotik. Menikmati film terbaru di kursi empuk dengan hembusan dinginnya AC, tak lupa pop corn sebagai pelengkap. Pemuja Hedonisme, begitu sebagian orang menyebutnya.
Bisa saja kalian adalah orang suka mengasingkan diri di tepian pantai atau melewati diinginya malam di puncak gunung. Menegakkan diri mencoba merenda mimpi dengan berbaur bersama alam karena merasakan dunia yang semakin angkuh untuk disapa.
Siapapun dan Apapun kalian, aku yakin, kita mempunyai satu mimpi yang sama akan negeri ini. Kita anak bangsa, memiliki keinginan memberikan sesuatu bagi negeri ini. Kita masih muda, tenaga, pikiran, dan waktu melekat pada diri, begitu pula kesempatan.
Tubuh kami gontai, kami lelah, marah, bahkan semakin muak pada semua yang ketimpangan yang ada di negeri ini. Kami curahkan semuanya lewat demonstrasi, orasi, tulisan di media, blog, ataupun cerocos di jejaring sosial, bahkan hingga obrolan di warung-warung. Tapi, biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan sebab di tengah derasnya pertanyaan tanpa jawaban. Betul, sudah selayaknya kita menggugat kegelapan, tapi jangan pernah lupa untuk terus menyalakan lilin penerang jalan. Mari kita songsong esok dengan optimisme & keyakinan, bahwa kebenaran & keadilan, kebajikan & kejujuran, keberanian & ketegasan, akan menemukan jalan.
Aku malas bicara tentang nasionalisme, di mata politisi, nasionalisme hanyalah benturan kepentingan yang kemudian selesai dengan transaksi dan kompromi. Kemudian terkotomi dalam kepentingan sesaat yang sempit. Begitulah MER(D)EKA.
Aku sadar bahwa kita bukanlah superhero dalam komik yang mempunyai kekuatan superpower. Kita juga bukan bagian barisan sakit hati yang merasa ditelantarkan negara. Kita hanya pemuda biasa yang ingin berbagi mimpi yang sama. Mimpi bahwa Indonesia bisa menjadi lebih maju. Apapun dan siapapun kita, kita mampu memberikan yang terbaik dari yang kita miliki.
Kawan, harapan untuk Indonesia yang lebih maju itu bukan di tangan pemimpin negara ini atau di tangan partai tertentu, tapi di tangan kita.
MERDEKA!
0 komentar:
Poskan Komentar