Minggu, 28 Agustus 2011

PENJUAL KORAN DI SEPINTAS SIANG

Mentari nampak gahar hari itu, seperti ingin meminta perhatian dari mahkluk di bumi. Terik panasnya menyimpulkan kegarangan dan keangkuhan ego manusia akan global warming. Aku hanya membonceng Lutfal saat mengitari Solo selepas membeli tiket petandingan sepakbola antara RI lawan Palestina di Stadion Sriwedari. Raung suara motor agak tertahan pada lampu merah di perempatan Gendingan, asap knalpot membumbung mencari sisi dan celah di udara keluar dari beberapa kendaraan lain yang ada di samping kanan-kiri, depan, dan mungkin juga belakang motor yang kami tumpangi.


Tak banyak yang aku perhatikan selain traffic light atau simbah bilang bangjo, cukup sedikit mendongak terpampang dengan jelas hitungan mundur yang masih menyisakan waktu lebih dari cukup untuk sekedar menilik orang di sekitar dengan nafsi yang berbeda-beda. Lutfal yang kemudian memecah lamunku, " Ehh mas, itu lihat yang jualan koran, masih kecil pake seragam pramuka lagi", moncer dengan dialek betawi nya. Meskipun keluarga besar dan orang tua nya dari daerah sekitar Tegal yang sangat familiar dengan dialek ngapak namun dia lahir dan besar di Ibu Kota, Jakarta.



"Mana Fal, g' ada kok," ujarku dengan pandangan mata menelisik mencari di mana peloper koran yang dimaksud. Secara refleks tangan kanan Lutfal menunjuk sisi kanan kami, tapi nyatanya yang coba dia tunjukkan nampak sudah tidak ada. "Loh kok g' ada ya, tadi ada di situ." Aku membatin mungkin tadi Lutfal salah lihat."Eh mas, itu tuh adeknya yang jualan koran," telunjuk tangan kanan Lutfal dengan mantab tertuju ke sosok penjual koran yang sedari tadi aku coba cari. Ya sosok perempuan kecil yang mungkin baru berusia sepuluh tahun dengan seragam pramuka dengan atasan berbalut rompi salah satu koran terkenal di Jawa Tengah yang mulai nampak lusuh dan luntur warnanya.



Aku jadi teringat lirik lagu Sore Tugu Pancoran punya Virgiawan Listianto yang aku yakin temen-teman lebih mengenalnya sebagai Iwan Fals. Virgiawan Listianto itu nama aslinya, sewaktu kecil dia pernah menjuarai lomba adzan se-DKI Jakarta.



Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal



Terlalu klise memang menyalahkan kemiskinan sebagai biang kerok dari keadaan anak itu. Tapi mengutip sebagaimana yang pernah disampaikan Mohammad Yunus, peraih Nobel Peace Prize atas jasanya mengangkat perekonomian Bangladesh: "Poverty is not created by poor people. It created by system we have built, the institutions we have designed."

Jadi, tak semestinya kau (penjual koran) tanggung sendiri keadaanmu saat ini. Sudahlah, aku sendiri tak begitu paham sistem juga institusi.


Slamat berjuang karena hidup ini terlalu berharga untuk tak berbuat.


Aku ingin terus menuliskan cerita ini, ahh aku mencoba berpikir lebih dalam, tapi buat apa? Lirik lagu di atas sudah lebih dari cukup untuk menjawabinya.

0 komentar: