Tanpa sadar kulirik jam dinding, ternyata sudah hampir jam 4 sore. Aku jadi teringat, ada janji bertemu dengan seorang kawan di Ngawen. Aku raih kunci motor dan handphone, segera meluncur ikut menjamahi setiap inchi aspal jalanan. Sesuai dugaanku kondisi jalan lebih ramai daripada hari-hari biasa, sebenarnya waktu itupun hari biasa cuma karena orang moment lebaran semakin mendekat sehingga lau-lintas menjadi semakin ramai. Kalau begitu, mudik adalah migrasi kemacetan? Bisa jadi.
Aku malas untuk ngebut jadi hanya memacu kuda besi pada kecepatan max 60 km/jam saja. Lepas dari desa Jagong perjalanan agak tersendat, ada deretan beberapa bus di depan. Aku terpaksa menguntit dari belakang, karena jengah sehingga tak betah merasa diasapi, akhirnya memaksaku menyalip bus di depan. Sejuruh kemudian....wussshhh....masuk gigi 4 dan aku berhasil berada di depan bus. Aku agak kaget dengan pemandangan di depan, mobil bak terbuka yang dari plat nomornya aku bisa yakin itu kendaraaan dari Jakarta melaju agak pelan beriringan dengan bus lain di depan. Mobil bak terbuka itu "disulap" hanya dengan perpal yang biasanya digunakan sebagai penutup bak belakang truk barang. Di dalam mobil tersebut setidaknya ada 6-8 orang yang dari wajahnya masih berusia belasan tahun. Pastilah keluarga mereka, menanti dengan penuh kerinduan akan kedatangan mereka. Aku tak mampu menggambarkan perjuangan mereka melawan kemacetan dan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh.
Aku yakin setidaknya bukan hanya keluarga dari yang kujumpai di jalanan ini yang ingin merayakan lebaran bersama keluarga besarnya. Sepekan ini ada jutaan orang tua bersiap di rumah, menyambut kepulangan keluarga mereka. Benak mereka dibayangi oleh wajah anak-anak ataupun saudaranya yang sedari kecil tumbuh bersama, namun ketika mulai tumbuh dewasa mereka terpisah ataupun memisahkan diri memenuhi kodratinya. Jelas tidak sepenuhnya mereka terpisah, meski fisik berjauhan tapi ikatan kekeluargaan dan saudara itu senantiasa menancap dalam sanubari hati mereka.
Hasrat dan keinginan setiap orang ketika merantau mungkin hampir sama, semua berangkat ke tanah rantau dengan niat memperoleh kehidupan yang lebih baik, setidaknya secara ekonomi. Kemudian di penghujung Ramadhan, pulang kampung dengan niat yang hampir sama pula, yaitu berkumpul dengan keluarga tercinta.
Aku tak bisa bayangkan kebahagiaan dan kebanggaan keluarga di kampung halaman, pastilah amat besar. Memang benar bahwa mereka merantau untuk mencari materi, tapi tak penting lagi rasanya seperti apa penampilan mereka saat ini, itu tak jadi soal; naik kereta, bus, kendaraan pribadi, pesawat atau motor tak penting jua karena bagi keluarga di rumah adalah keselamatan diri kalian (pemudik) yang paling dinanti.
Benar aku merasa iba dengan pemudik yang aku ceritakan di atas, tapi aku juga bangga, sekaligus menyimpan kagum. Termasuk kalian yang menempuh ratusan kilo aspal dengan motor, berjejalan di dalam kereta yang pengap ataupun bagi pemudik yang begitu menikmati berdesakan di dalam bus, terapung di atas laut bersama kapal. Aku menaruh hormat pada kalian.
Selamat berkumpul dengan keluarga kalian, bernostalgia dengan kawan-kawan di kampung sekaligus melepas kerinduan kaian akan bau tanah kelahiran.
Selamat datang pemudik di kampung halaman kalian masing-masing.
Meskipun masih belum pasti penetapannya, aku akan mendahului, aku ucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah!
0 komentar:
Poskan Komentar